Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kronologi Pria Tikam Perutnya Sendiri hingga Meninggal Dunia di Poasia Kendari Sulawesi Tenggara – Portal Kendari

  • account_circle Sultra Terkini
  • calendar_month Sabtu, 20 Sep 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

[ad_1]

TRIBUNEWSSULTRA,KENDARI- Seorang pria bernama A (49) ditemukan tewas mengenaskan di kebun ubi miliknya di kawasan Poasia, Kota Kendari,Sulawesi Tenggara (Sultra) Kamis (18/9/2025).

Korban ditemukan dengan sebilah pisau menancap di perutnya dan sebagian ususnya terburai keluar.

​Penemuan mayat ini pertama kali diketahui oleh tetangga korban, AS sekitar pukul 11.00 WITA.

Sebelumnya, keluarga korban telah mencari A sejak pukul 09.00 WITA karena tidak ditemukan di rumahnya.

Kronologi

Arifin sendiri pertama kali ditemukan oleh tetangganya bernama AS, dengan kondisi telungkup di kebun ubi yang berada sekitar 100 meter di belakang rumahnya.

“Pas saya liat ada pisau di badannya dan langsung melaporkan hal itu kepada keluarganya,” ujarnya, Kamis (18/9/2025). 

Baca juga: Kronologi Istri Kedua Cemburu Tikam Istri Siri Muda Beda 34 Tahun di Kolaka Utara Sulawesi Tenggara

AS bilang, ia ikut membantu mencari A karena diminta oleh kakak korban, di mana Arifin sudah tiga jam meninggalkan rumahnya. 

“Kakaknya curiga jangan sampai dia lompat dari sumur,” ujarnya.

Sementara itu, ​kakak kandung korban, M membenarkan kalau dirinya meminta AS bersama tetangga lain untuk mencari A sebab beberapakali adiknya itu berniat mengakhiri hidup.

Ia pun bercerita kalau adiknya itu menderita penyakit penyempitan pita suara dan tumor rongga mulut stadium 7.

Kondisi ini membuat Arifin mengalami depresi berat dan beberapa kali mencoba bunuh diri.

​”Sudah beberapa kali dia coba lompat ke sumur, tapi berhasil kami cegah. Terakhir hari Senin lalu dia mau lompat lagi,” jelas Muksin.

​Saksi lain, anak korban bernama N juga membenarkan bahwa ayahnya menderita penyakit kronis tersebut.

“Ayah saya sudah beberapa kali menolak untuk dirujuk berobat ke Makassar, karena setiap tahu mau dirujuk, dia langsung depresi,” kata N.



[ad_2]

  • Penulis: Sultra Terkini
expand_less