Menteri HAM Natalius Pigai Imbau Publik Tak Buru-buru Simpulkan 3 Orang Hilang Usai Demo
- account_circle Sultra Terkini
- calendar_month Rabu, 17 Sep 2025
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KENDARIPOS.CO.ID–Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai meminta publik agar tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa tiga orang yang belum diketahui keberadaannya usai demonstrasi akhir Agustus lalu benar-benar hilang.
Pigai menilai ada kemungkinan tiga orang tersebut tengah menyembunyikan diri karena panik.
“Tunggu saja. Maksudnya begini, dalam suasana kepanikan, itu orang suka menyembunyikan diri, kemudian oleh orang-orang tertentu dinyatakan hilang. Terlalu dini untuk menyatakan orang itu hilang,” ujar Pigai di Hotel Royal Kuningan, Jakarta, Selasa (17/9), usai agenda pembahasan DIM dan Rancangan Perubahan UU 39/1999.
Ia menyebut Kementerian HAM telah membentuk tim khusus untuk menindaklanjuti kasus ini. “Mungkin menjauhkan diri. Kan kita tidak tahu, tiga orang yang dinyatakan belum kelihatan. Bahasa saya adalah bukan hilang, tapi belum kelihatan. Atau mereka belum kembali ke rumah,” Ujarnya dikutip dari cnn indonesia, rabu (17/9).
Pigai juga menyarankan agar kamera pengawas atau CCTV di berbagai titik di Jakarta diperiksa sebagai bagian dari penyelidikan.
“Teman-teman dari KontraS, saya sampaikan ya, harus mengerti tentang penyelidikan. Sabar, kita sama-sama bekerja. KontraS juga bekerja, kami juga bekerja, kita akan lihat,” katanya.
Pigai menegaskan agar publik tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa kasus ini merupakan penghilangan paksa. “Kata paksa itu adalah kata yang tindakan visual. Jadi jangan buru-buru memakai istilah itu,” tegasnya.
Sebelumnya, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Pidana Kekerasan (KontraS) melaporkan ada 44 orang hilang terkait demonstrasi akhir Agustus lalu. Dari jumlah itu, 33 orang dikategorikan sebagai korban penghilangan paksa. Hingga kini, tiga orang masih belum diketahui keberadaannya, yakni Bima Permana Putra (terakhir terlihat di Glodok, Jakarta Barat), serta M. Farhan Hamid dan Reno Syahputeradewo (terakhir di markas Brimob, Jakarta Pusat).
[ad_2]
- Penulis: Sultra Terkini





