Breaking News
light_mode
Trending Tags

Tari Kolosal Pembukaan STQH Nasional di Kendari Angkat Sejarah Islam di Buton, Libatkan 300 Penari – Portal Kendari

  • account_circle Sultra Terkini
  • calendar_month Minggu, 12 Okt 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

[ad_1]

Portalkendari.com, KENDARI – Pembukaan Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis ( STQH ) Nasional 2025 di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) menampilkan tari kolosal bertajuk Sila Islam di Buton.

Pembukaan ajang nasional ke-28 tersebut berlangsung di eks MTQ Kendari, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga, pada Sabtu (11/10/2025) malam.

Tarian ini mengangkat kisah masuknya Islam di Kesultanan Buton abad ke-16, dikemas dalam gerak tari bernuansa tradisi dan kreasi khas Sultra.

Koreografer tari kolosal, Akbar Tanjung, mengatakan pertunjukan tersebut tidak hanya menampilkan keindahan gerak, tetapi juga nilai sejarah dan budaya lokal. 

Melalui tarian ini, ia ingin menghidupkan kembali nilai-nilai Islam dan kearifan masyarakat Buton.

Baca juga: Menteri Agama Puji Gedung Multimedia IAIN Kendari: Ibarat Gadis Cantik Punya Potensi Masa Depan

“Tema kami angkat adalah Sila Islam di Buton, yakni sejarah masuknya Islam di Buton abad ke-16. Kami ingin mengenalkan kembali nilai-nilai Islam dan kearifan lokal melalui tarian ini,” kata Akbar Tanjung.

Akbar menyampaikan, sebanyak 300 penari terlibat pementasan tersebut, terdiri siswa SMK, SMA, dan Madrasah Aliyah di Kendari.

Mereka berlatih intens 25 hari, dimulai di Lapangan SMAN 4 Kendari hingga 2 hari menjelang pembukaan di arena utama Eks MTQ Kendari, sebagai lokasi pembukaan.

“Alhamdulillah, semua tampil maksimal. Sebagai koreografer, saya sangat puas melihat hasil kerja keras anak-anak,” tuturnya.

Dalam garapan tari kolosal ini, Akbar memadukan gerakan tradisional Sultra, dengan sentuhan kreasi baru tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal. 

Sebagian besar gerakan terinspirasi dari tari-tarian Buton, termasuk Tari Kalegoa simbol tradisi masyarakat Buton.

Baca juga: Jawa Tengah Kenalkan Batik, Pakaian Adat Saat Pawai Kendaraan Hias STQH di Kendari Sulawesi Tenggara

“Karena temanya tentang masuknya Islam di Buton, kami banyak mengadopsi gerak-gerak khas Buton, tetapi tetap memadukan ciri khas Sultra agar lebih kaya makna,” ujarnya.

Dalam tarian kolosal ini, para penari juga menggunakan sejumlah kain berwarna hijau, putih dan gold atau emas

Menurut Akbar, warna kain tersebut memiliki arti yang relevan dalam cerita yang diangkat seperti warna putih melambangkan kesucian.

Hijau sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran, serta warna emas menggambarkan kebangsawanan.



[ad_2]

  • Penulis: Sultra Terkini

Tari Kolosal Pembukaan STQH Nasional di Kendari Angkat Sejarah Islam di Buton, Libatkan 300 Penari – Portal Kendari

  • account_circle Sultra Terkini
  • calendar_month Minggu, 12 Okt 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

[ad_1]

Portalkendari.com, KENDARI – Pembukaan Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis ( STQH ) Nasional 2025 di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) menampilkan tari kolosal bertajuk Sila Islam di Buton.

Pembukaan ajang nasional ke-28 tersebut berlangsung di eks MTQ Kendari, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga, pada Sabtu (11/10/2025) malam.

Tarian ini mengangkat kisah masuknya Islam di Kesultanan Buton abad ke-16, dikemas dalam gerak tari bernuansa tradisi dan kreasi khas Sultra.

Koreografer tari kolosal, Akbar Tanjung, mengatakan pertunjukan tersebut tidak hanya menampilkan keindahan gerak, tetapi juga nilai sejarah dan budaya lokal. 

Melalui tarian ini, ia ingin menghidupkan kembali nilai-nilai Islam dan kearifan masyarakat Buton.

Baca juga: Menteri Agama Puji Gedung Multimedia IAIN Kendari: Ibarat Gadis Cantik Punya Potensi Masa Depan

“Tema kami angkat adalah Sila Islam di Buton, yakni sejarah masuknya Islam di Buton abad ke-16. Kami ingin mengenalkan kembali nilai-nilai Islam dan kearifan lokal melalui tarian ini,” kata Akbar Tanjung.

Akbar menyampaikan, sebanyak 300 penari terlibat pementasan tersebut, terdiri siswa SMK, SMA, dan Madrasah Aliyah di Kendari.

Mereka berlatih intens 25 hari, dimulai di Lapangan SMAN 4 Kendari hingga 2 hari menjelang pembukaan di arena utama Eks MTQ Kendari, sebagai lokasi pembukaan.

“Alhamdulillah, semua tampil maksimal. Sebagai koreografer, saya sangat puas melihat hasil kerja keras anak-anak,” tuturnya.

Dalam garapan tari kolosal ini, Akbar memadukan gerakan tradisional Sultra, dengan sentuhan kreasi baru tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal. 

Sebagian besar gerakan terinspirasi dari tari-tarian Buton, termasuk Tari Kalegoa simbol tradisi masyarakat Buton.

Baca juga: Jawa Tengah Kenalkan Batik, Pakaian Adat Saat Pawai Kendaraan Hias STQH di Kendari Sulawesi Tenggara

“Karena temanya tentang masuknya Islam di Buton, kami banyak mengadopsi gerak-gerak khas Buton, tetapi tetap memadukan ciri khas Sultra agar lebih kaya makna,” ujarnya.

Dalam tarian kolosal ini, para penari juga menggunakan sejumlah kain berwarna hijau, putih dan gold atau emas

Menurut Akbar, warna kain tersebut memiliki arti yang relevan dalam cerita yang diangkat seperti warna putih melambangkan kesucian.

Hijau sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran, serta warna emas menggambarkan kebangsawanan.



[ad_2]

  • Penulis: Sultra Terkini
expand_less