STQH Nasional 2025 di Kendari Sulawesi Tenggara, Dakwah Jaga Lingkungan Hidup Melalui Ekoteologi – Portal Kendari
- account_circle Sultra Terkini
- calendar_month Senin, 20 Okt 2025
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
[ad_1]

Portalkendari.com, KENDARI – Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis atau STQH Nasional XXVIII tahun 2025 selesai berlangsung di Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Perhelatan akbar Islami itu berlangsung selama 10 hari mulai 9-19 Oktober 2025.
Bertemakan Syiar Al-Qur’an dan Hadis, Merawat Kerukunan dan Melestarikan Lingkungan, STQH memberi harapan baru untuk mengajak masyarakat terlibat pelestarian lingkungan hidup dan implementasi prinsip-prinsip hidup berkelanjutan.
Hal tersebut juga sejalan dengan Ekoteologi, yakni konsep beragama yang mendekatkan penganutnya dengan alam lingkungan untuk lebih memahami hubungan positif timbal balik.
Dalam ajaran Islam, mengenal adanya tiga hubungan, Hablun Minallah, Hablun Minannas dan Hablun Minal Alam’ (hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan manusia, hubungan dengan alam).
Pada Hablun Minal Alam’ manusia adalah bagian dari alam semesta maka wajib untuk menjaga hubungan baik dengan alam lingkungannya.
Bahkan dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 30: “Sesungguhnya Aku menjadikan manusia sebagai khalifah”. Jelaslah sebagai khalifah, manusia harus mampu menjaga lingkungan hidupnya.
Baca juga: OPINI: Citizen Science Sebagai Cara Lain dalam Mencari Solusi Terkait Isu Lingkungan
Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka juga menyebut STQH memberikan sinyal pada sektor lingkungan hidup, semakin menjadi program prioritas.
“Jadi kita sudah tahu di dalam agama Islam sudah memperingatkan kita mengenai pentingnya lingkungan hidup, karenanya kita ingin menyiarkan hal ini ke masyarakat,” kata Andi Sumangerukka saat upacara penutupan STQH Nasional ke-28, Sabtu (18/10/2025) malam).
“Ke depannya kita akan melakukan revitalisasi, tempat-tempat yang memiliki dampak ekonomi,” ujarnya.
Director The Climate Reality Project Indonesia, Amanda Katili juga menyebut menciptakan dampak positif bagi lingkungan hidup serta menerapkan prinsip hidup berkelanjutan, tidaklah harus dimulai dari hal-hal besar.
Namun, justru dari hal-hal kecil dalam keseharian, bisa menciptakan dampak positif signifikan bagi lingkungan hidup.
“Menerapkan hal-hal kecil hidup berkelanjutan bisa dilakukan dalam keseharian. Misalnya dengan tidak melakukan fast fashion atau membuang pakaian yang 80 persen masih layak pakai hanya karena perubahan tren fesyen,” ujar Amanda sekaligus pengarang buku Dalam Dekapan Zaman Memoar Pegiat Harmoni Bumi dalam program siniar terbarunya Light Vibes from Amanda di Youtube, dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (20/10/2025).
Baca juga: Pelaku UMKM Raih Omzet Rp2 Juta per Hari saat STQH Nasional 2025 di Kendari Sulawesi Tenggara
Ia berpesan kepada masyarakat agar terus konsisten melakukan hal-hal kecil kebaikan agar perlahan menghasilkan dampak positif bagi lingkungan hidup yang lebih besar.
Dimulai dari keseharian dan kehidupan di dalam rumah sehingga krisis iklim bisa dimitigasi dan tidak terjadi dampak buruk.
“Tentunya (dampak buruk) kita hindari bagi anak cucu kita,” tutup Amanda.(*)
(TribunnewsSultra.com/Content Writer)
[ad_2]
- Penulis: Sultra Terkini





